Laman

Kamis, 24 Mei 2012

99 Jalan Masuk Surga dan Menuju Kesempurnaan Iman


99 Jalan Masuk Surga Langkah & Menuju Kesempurnaan Iman”

Dari Milist Tetangga semoga bermanfaat
01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;


06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksessan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambitious akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila
karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Berlakulah adil dalam segala urusan;
42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
45. Perbanyak silaturrahim;
46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
47. Bicaralah secukupnya;
48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
54. Hormatilah kepada guru dan ulama;
55. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
56. Cintai keluarga Nabi saw;
57. Jangan terlalu banyak hutang;
58. Jangan terlampau mudah berjanji;
59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh;
62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
66. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya;
67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan
69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.
70. Jangan melukai hati orang lain;
71. Jangan membiasakan berkata dusta;
72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita
76. Jangan membuka aib orang lain;
77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
80. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan negara;
82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
85. Hargai prestasi dan pemberian orang;
86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan.
88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu;
90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya;
94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
95. Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri;
97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan merusakan;
99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang.
Amiin

“Sebarkanlah walau satu ayat pun” (Sabda Rasulullah SAW) “Niscaya Allah
memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.
Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah
mendapat kemenangan yang besar.” (Surah Al-Ahzab:71)


1001 jalan menuju Surga

Tulisan ini tanpa ada dalil-dalil yang lengkap, hanya sepengetahuan penulis. Mohon maaf atas 'kelancangan' ini. Silahkan melengkapinya jika dibutuhkan dan mohon diluruskan bila salah*
Beberapa waktu lalu, saya menanyakan kepada 'seorang kakak', kenapa belum mau menikah segera? Kakak tersebut menjawab bahwa dia sedang meningkatkan sebuah amalan ibadah sehingga bisa 'lebih layak' menuju gerbang nikah, lebih tepatnya lebih siap untuk mendidik anaknya kelak. Menurutnya, bahwa mendidik anak untuk melakukan 'amalan' tersebut maka sebagai ibunya harus memberi teladan terlebih dahulu.
Menarik, apa yang disampaikan si kakak untuk meningkatkan 'amalan' tersebut. Seratus persen saya sepakat, sebagai muslim untuk selalu meningkatkan ketakwaaan (ibadah) kita, setidaknya menjaga dalam tahap yang baik. Dan tentang keteladanan kepada anak, ini juga tidak ada keraguan.
Yang 'sedikit mengusik', menurutnya berdasar sebuah dalil, bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang mempelajari 'amalan' tersebut dan mengajarkannya. Dan itu pun sebenarnya memang benar. Namun, diskusi saya buka denga pertanyaan, bukankah dalam risalah Nabi Muhammad SAW sendiri, seringkali beliau mengatakan hal-hal yang menjadi amalan paling baik?
Misalnya, ketika seorang sabahat datang kepada Rasul dan menanyakan Islam itu apa, maka dijawab islam adalah akhlak. Artinya, Islam itu sebagain besar adalah tentang akhlak, berhubungan dengan orang lain. Risalah lain menceritakan bahwa seorang sahabat bisa masuk surga 'hanya' dengan memaafkan semua kesalahan sahabat-sahabatnya yang ditimpakan kepadanya hari tersebut, setiap malam menjelanng tidur.
Kemudian, seorang anak muda datang dan menanyakan tentang siapa yang harus ditaati antara ayah dan ibu, dan Rasul pun menjawab Ibu sampai tiga kali, baru kemudian ayah. Dan dalam kisah lain, Umar bin Khattab pernah mendengar bahwa akan ada seorang penghuni sorga yang datang kepadanya dari sebuah daerah yang dia hanya keluar dari daerah tersebut setelah ibunya meninggal, karena saking berbaktinya dengan merawat ibunya. Dikisahkan, Umar bahkan mencium tangan sahabat yang akhirnya beliau 'temui' di masa pemerintahannya.

Ada lagi, tentang 7 golongan yang masuk surga adalah pemimpin yang adil, pemuda yang sholeh, orang yang terikat pada masjid, orang yang bertemu dan berpisah karena Alllah SWT dan seorang pemuda yang 'digoda' wanita di tempat sepi dan mengatakan bahwa dia takut pada Allah, orang sedekah yang tangan kiri tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanan, dan memohon ampun sampai bercucuran air mata.
Dan yang pasti, sebuah hadis yang terkenal bahwa manusia yang paling berhasil adalah yang mempunyai sebesar-besarnya manfaat bagi orang lain. Sederhananya, manusia jenis ini pun saya yakin masuk surga. Karena azab itu diturunkan pertama kepada orang shaleh pribadi yang mebiarkan masyarakatnya rusak.

Kita mungkin masih ingat, serita seorang pelacur yang ahli surga karena memberi minum pada seekor anjing. Orang yang sudah membunuh 100 orang dan ahli surga karena jarak yang lebih dekat ke 'kota taubat'. Atau karena membebaskan sebuah burung, Umar juga disebutkan Ali ahli surga.

Jadi moral dari semuanya, bahwa pintu masuk surga itu banyak. Dan tentunya, masih banyak lagi kisah atau cerita-cerita dimana Rasulullah mengatakan bahwa tindakan tersebut sebaik-baik amalan, calon penghuni surga, yang diampuni dosanya terdahulu dan lain sebagainya.
Belum tentu yang 'paling alim' masuk surga duluan. Ingat cerita di puntu surga antara orang mati syahid, ulama dan dermawan. Malaikat menawarkan siapa yang berhak masuk surga duluan kepada syahid, tapi dia menolak karena keberangkatan berjuang di jalan Allah atas ajaran guru, maka ulama lah yang lebih berhak. Kemudian ulama pun menolak, karena kelapangannya mengajar ilmu, termasuk kepada si syahid karena tersedianya sarana atas sedekah si dermawan. Akhirnya, dermawan-lah yang masuk lebih dahulu,
Pun sebenarnya, masuk surga-nya seorang muslim bukan karena amalan-amalan-nya. Tapi karena rahmat Allah SWT. Ingat cerita tentang seorang ulama yang dia sebenarnya sangat banyak amalan dan masuk surga karena izin Allah, tapi sang ulama tidak mau masuk surga jika bukan karena amalan-amalannya. Maka jadilah, semua amalan ditimbang hanya dengan rezeki sebutir bola mata ulama dan masih jauh lebih berat bola mata tersebut.
Karena islam itu mudah maka mudahkanlah, demikian salah satu hadis berkata. Tapi ini bukan berarti sebagai muslim, bertindak seenaknya. Bermain-main dengan agama. Satu yang paling fundamen adalah tentang keimanan, tentang tauhid. Islam jelas-jelas menganggap bahwa syirik (menyekutukan Allah) itu sebagai dosa yang sangat besar. Secara sederhana, tauhid itulah yang menjadi dasar bagi seseorang menjadi muslim yang baik.
Tauhid (perihal ke-Esa-an kepada Allah), mudah diucapkan tapi sangat sulit dilakukan secara sepenuhnya. Seharusnya, semua hidup muslim tunduk pada aturan Alllah. Semua peri kehidupan, dari bangun tidur hingga urusan negara. Dan ini memang sangat-sangat sulit. Tentang urusan bunga bank saja kita masih belum sepenuhnya. Namun yang paling mendasar adalah menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya puncak tertinggi cinta, penghambaan dan tempat bergantung. Bukan jabatan, harta, istri, apalagi dukun!
Beberapa cara menjadi muslim terbaik dan menggapai surga diatas menurut saya adalah cerminan bahwa Islam itu menghargai potensi dan kemampuan umatnya. Bagi muslim yang menjadi pemimpin, maka jadilah menjadi pemimpin yang adil untuk mengetuk pintu surga. Bagi si kaya, maka dermawanlah sebanyak-banyaklah. Dan bagi seorang yang mampu melakukan 'amalan' yang diidamkan si kakak, maka jadilah orang yang menjadi guru bagi umat islam.

Tindakan menunggulkan satu amalan daripada yang lain tentu bukan hal yang bijaksana. Surga bukan hanya untuk orang yang setiap hari bisa shalat tahajud (malam), bukan pula hanya untuk yang bisa puasa sunah rutin, atau untuk yang hafal Al-Qur'an. Surga juga buat 'muslim biasa' yang punya kebersihan hati dalam beribadah, buat para suami yang peduli terhadap keluarganya, buat pengamen, buat profesional dan lain-lainya.
Dalam hal ini, paradigmanya tentang masuk surga ending, bukan langsung karena banyaknya dosa yang dilakukan (hampir) tiap muslim sehingga harus 'mampir’ di neraka. Urusan pun berpindah ke sebentar atau lamanya di neraka yang berbeda tiap muslim (dan semua muslim pasti inginnya tidak ’mampir’ ke neraka), baru kemudian ke surga. Dan semua yang masuk surga, atas dasar rahmat (kasih sayang) Allah SWT, bukan amalan kita.
Berkaitan dengan lama tidaknya di neraka dan potensi yang bisa berbeda tiap muslim, maka hendaknya setiap muslim haruslah mempunyai sebuah amalan yang menjadi ’andalan’nya. Jika sebuah tim, ada selalu yang manjadi andalan, atau menjadi bintangnya.
Demikianlah, sebuah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua yang ber- tawasul (menjadikan sarana dalam ibadah) dengan sebuah amalan terbaik masing-masing untuk membuka batu besar penghalang gua. Seorang ayah tetap menjaga jatah susu untuk kedua orang tuanya yang tertidur, sekalipun anaknya sendiri merengek minta susu tersebut. Seorang yang tidak jadi mengambil ’tubuh’ sepupu perempuannya yang cantik sebagai ganti bayar hutang. Seorang majikan yang buruhnya ’lupa’ mengambil jatah upah, lalu kembali dan diberikan banyak gembalaan sapi sebagai pemutaran uang atas upah yang tertinggal itu.

Jadi, jika kita bisa menjawab apa pekerjaan impian anda, atau yang lainnya, maka seharusnya mungkin kita juga bisa membayangkan jika nanti ditanya, ”apa amalan yang paling kau andalkan untuk mendapat kasih sayang-KU?”. Dan itu bukan besar kecilnya, tapi konsistensi (istiqomah) serta pastinya ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi.
Jadi, ada lebih dari 1001 jalan menuju surga...
Wallahu’alam bi shawab
Dan hanya Allah yang Maha Mengetahui

Seribu Jalan Menuju Surga

Kita tentu pernah mendengar kisah seorang pelacur yang masuk surga gara-gara memberi minum kepada seekor anjing yang kehausan. Kita juga pernah mendengar kisah seorang pembunuh yang telah membunuh 100 orang akhirnya masuk surga karena tobat. Tambahan lagi kisah seseorang yang tertarik pada agama Islam dan mengutarakannya kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian setelah diberi wejangan Kanjeng Rasul, dia langsung terjun ke medan jihad dan menemui syahid. Spontan.
Ada juga jalan lain menuju surga. Bilal masuk surga karena kedawaman (kesinambungan)-nya dalam mengerjakan sholat sunnah setiap kali selesai wudhu.
Ada juga yang amalan hariannya biasa-biasa saja, bahkan sampai seorang sahabat yang ingin tahu rahasianya sehingga dia disebut Rasulullah SAW dengan sebutan ahli surga (padahal masih hidup) sampai menginap selama tiga hari di rumahnya agar mengetahui rahasianya hampir putus asa. Dia tidak menemukan amalan unggulan sang ahli surga itu, sehingga sang ahli surga mengatakan bahwa dia setiap sebelum tidur dia memaafkan saudara-saudaranya dan tidak mendengki kepada orang lain.
Begitu banyak jalan menuju surga. Akan tetapi, manusia tidak akan bisa menempuh semua jalan itu. Yang diperlukan cukup satu jalan saja, entah lewat jalan yang mana. Jika kita kuat berpuasa, maka di situ ada jalan menuju surga. Jika kita kuat bangun malam, di situ ada jalan menuju surga. Jika kita punya banyak harta, di situ ada jalan masuk surga. Jika kita mempunyai ilmu, di situ ada jalan menuju surga. Jika kita mempunyai orang tua, di situ ada jalan menuju surga. Dan masih banyak lagi jalan menuju surga yang lain.
Kita perlu mengenali potensi kita di mana. Jika kita memang kuat berlapar-lapar ria, mungkin jalan kita ke surga melalui puasa. Jika kita kuat begadang malam-malam, maka bangun malam bisa jadi sarana menuju surga. Begitu juga, jika kita miskin papa, maka jangan menempuh jalan menuju surga dengan sarana harta kita.
Jika diibaratkan dengan mata pelajaran sekolah, maka kita cukup mengejar satu mata pelajaran yang paling berpotensi mendapatkan nilai raport tertinggi. Di situlah kita curahkan segenap kemampuan kita agar mendapatkan nilai raport yang maksimal, nilai 10 (sepuluh).
Bagaimana dengan mata pelajaran yang lain? Cukup mendapatkan angka 6 (enam). Arti angka enam ini adalah kita melaksanakan perintah Allah yang wajib-wajib saja, atau tidak berbuat maksiyat yang menjadikan nilai raport kita menjadi merah. Memang lebih bagus lebih tinggi daripada nilai enam. Tetapi, yang perlu ditekankan di sini kita menspesialisasikan diri kita pada amalan unggulan kita sampai kita mendapatkan nilai tertinggi.
Perlu diingat bahwa seseorang masuk surga itu bukan karena amalnya, akan tetapi karena rahmat Allah SWT. Rasulullah pun masuk surga karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.

Benarkah Orang yang Baik belum tentu masuk Surga ?



Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip perkataan Ibnu Ishak, ketika Rasulullah SAW mengutus al-Ala' bin al-Hadhrami, beliau bersabda, ''Apabila engkau ditanya tentang kunci surga, katakanlah kuncinya adalah la Ilaha Illallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah).''

Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan berkata sebanyak apa pun la Ilaha Illallah dibaca, tidak akan memberikan manfaat sedikit pun kepada yang mengucapkannya, kecuali telah memenuhi tujuh syarat. Pertama, mengetahui maknanya. Yakni, mengetahui makna yang meniadakan dan yang menetapkan. Oleh karena itu, siapa saja yang mengucapkan la Ilaha Illallah, sedangkan ia tidak mengerti makna dan apa yang menjadi tuntutannya, maka ucapannya tidak akan bermanfaat baginya. Sebab, jangankan yakin dengan apa yang diucapkannya, tahu artinya saja tidak. Ini sama dengan orang yang berbicara dengan suatu bahasa, namun ia tidak paham bahasa itu.

Kedua, disertai keyakinan. Keyakinan adalah bentuk kesempurnaan pengetahuan. Dan dengan keyakinan ini setiap bentuk keraguan dan kebimbangan akan dihilangkan. Ketiga, dibarengi keikhlasan. Keikhlasan akan meniadakan segala bentuk kesyirikan. Dan keikhlasan inilah yang dikehendaki dari la Ilaha Illallah. Keempat, kejujuran. Kejujuran akan mencegah timbulnya kemunafikan. Seperti mereka mengucapkan la Ilaha Illallah dengan mulut mereka, sementara hatinya tidak meyakini maknanya.

Kelima, mencintai kalimat itu, sehingga, ketika mengucapkannya wajahnya tampak berseri. Dengan demikian, berbeda dengan wajah yang diperlihatkan oleh orang-orang munafik. Keenam, tunduk untuk melaksanakan hak-hak la Ilaha Illallah. Yaitu melaksanakan amal-amal wajib, ikhlas karena Allah dan hanya mencari ridha-Nya. Dan demikian inilah tindakan yang dikehendaki dari la Ilaha Illallah.

Ketujuh, adanya penerimaan yang meniadakan bentuk penolakan. Hal ini dibuktikan dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah syarat-syarat yang telah digali oleh para ulama dari Alquran dan sunah agar la Ilaha Illallah dapat menjadi kunci yang akan membuka pintu surga.

JALAN MENUJU SURGA
 
Abdullah bin Ubaid bin Umair menyatakan bahwa Abu Dzar RA pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu'alaihi Wasalam . Ia adalah shahabat Beliau yang paling banyak bertanya. Katanya : "Maukah engkau memberitahukan kepadaku amalan yang membawaku masuk Surga ?"
 
Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalam menjawab : "Hendaknya engkau beribadah  kepada Allah tanpa menyekutukan dengan sesuatu apapun." Abu Dzar bertanya : "Hal itu tentu ada tindak lanjutnya ?"
 
Beliau Shallallahu'alaihi Wasalam menjawab : "Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat." Abu Dzar bertanaya lagi : "Kalau tidak punya harta untuk dizakati ?". Beliau Shallallahu'alaihi Wasalam menjawab : "Lakukanlah amar ma'ruf nahi mungkar." Abu Dzar berkata : "Tetapi untuk itupun terlalu lemah ?" Nabi Shallallahu'alaihi Wasalam bersabda : "Masih ingin berbuat baik
Juga  ? Tahan dirimu untuk berbuat jahat terhadap manusia." (dikeluarkan oleh Hannad dalam Az-Zuhd no. 1061. Syaikh Abdurrahman Al Faryuwa'I menyatakan : "Sanadnya shahih, apabila Abdullah bin Umair mendengarnya dari Abu Dzar  RA. Karena saya tidak mendapatkannya dalam kutubur Rijal bahwa ia meriwayatkannya dari abu Dzar RA. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawarid no. 863. dengan sanadnya sendiri dari Abu Katsir As Suhaimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar RA secara marfu'. Hadits ini memiliki penguat yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Musa. Lihat Az-Zuhd II : 515)
 
Sungguh sebuah majelis yang sangat diberkahi Allah, manakala di dalamnya terdapat orang-orang yang senantiasa mengingatkan satu dengan yang lainnya kepada tempat kembalinya-akhirat-yang kekal. Begitulah memang sepatutnya sesama saudara semuslim untuk selalu bersama-sama saling mendorong dan mengingatkan untuk senantiasa berbuat bagi kehidupan setelah kematiannya.
Metode itu pula yang sering dipakai oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalam dalam memberikan bimbingan kepada umatnya terutama para shahabatnya tentang Dien yang agung ini. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalam sendiri telah memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa bertanya kepada orang yang tahu apabila memang ia tidak mengetahui.
 
Dari hadits di atas terdapat beberapa pelajaran/hikmah bagi kita yang dengannya dapat  menyelamatkan kita dari adzab Neraka, yakni :
 
1. Menunjukkan kepada kita tentang keutamaan para Shahabat. Bagaimana gigihnya mereka dalam menggali segala sesuatu yang dapat mengantarkan mereka kepada kebaikan yang kekal, mengantarkan pada Jannah yang abadi. Mereka
tidak pernah bosan menanyakan kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalam
 
mengenai amalan apa yang dapat menjadi jalan baginya menuju JannahNya, dan terdapat pula shahabat yang menanyakan tentang kejahatan dan bencana seperti Hudzaifah bin Yaman karena khawatir melakukannya. Masing-masing dari shahabat tersebut memeliki keutamaan dan kebaikan.
 
2. Terdapat penjelasan tentang kewajiban mentauhidkan Allah baik berkenaan dengan RububiyahNya dalam segala aktifitas peribadahan yang kita lakukan serta berkenaan dengan Asma' dan SifatNya. Dijelaskan bahwa Ibadah sebagai manifestasi dari tauhid Rububiyyah merupakan konsekuensi dari keyakinan kita terhadap keberadaan Allah, yang meliputi segala yang dicintai dan diridhai Allah baik ucapan maupun perbuatan, secara lahiriyah maupun batiniah
(sesuai yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah). Sedangkan Syirik yakni meletakkan peribadahan bukan pada tempatnya dengan membuat sekutu-sekutu bagi Allah. Hal tersebut merupakan kedhaliman terbesar, yang menyeret pelakukan ke dalam Jahannam dan kekal di dalamnya.
 
3. Di dalam hadits tersebut tampak bagaimana keutamaan Shalat dan Zakat sebagai amalan yang ditempatkan setelah pentauhidan Allah. Banyak sekali Ayat-ayat yang menjelaskan keutamaan kedua amalan tersebut dikarenakan penyebutannya yang senantiasa mengiringi pentauhidan terhadap Allah. Sehingga meninggalkan kedua amalan tersebut merupakan penyebab terbesar yang dapat menyeret seseorang batal keislamanya alias terjerumus ke dalam
kekafiran yang mengekalkan dirinya dalam neraka.
 
4. Terdapat wasiat dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalam tentang amar ma'ruf nahi munkar. Di dalam hadits tersebut dijelaskan bahwasannya amalan tersebut merupakan sebab umat ini menjadi yang terbaik dikarenakan dengan amalan tersebut umat ini mampu menghadapi berbagai pukulan serta segala konspirasi yang dihantamkan para musuh Allah sepanjang masa. Dengan meninggalkan amalan ini akan terbuka berbagai maksiat sehingga laknat Allah
akan menimpa umat, seperti halnya Allah melaknat Bani Israil dalam firmannya 
: "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lesan Daud dan Isa Ibnu Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (Al Maidah : 78-79)
 
5. Dijelaskan pula di dalam hadits tersebut kaidah dasar mengenai amarma'ruf nahi munkar. Bagaimana sikap seorang muslim dalam mensikapi lingkungan yang penuh dengan kemaksiatan, sehingga dia tidak terjebak dalam arus kemaksiatan tersebut. Salah satunya dengan menghindari perbuatan jahat kepada orang lain yakni dengan meninggalkan tempat-tempat maksiat dan
permainan haram serta tempat meragukan. Di samping itu juga berlepas diri dari kebiasaan orang banyak berupa bid'ah dan kesesatan yang itu semua dapat menyeret kepada kezaliman terbesar, diantaranya bid'ah penyembahan kubur, bergantung kepada orang-orang yang dianggap wali, bid'ah-bid'ah di masjid, bid'ah dalam bulan-bulan dan peringatan-peringatan tertentu, bid'ah dalam shalat jama'ah dan jum'at, bid'ah dalam dzikir dan doa, bid'ah pernikahan
dan walimah, bid'ah peringatan ulang tahun, perta-pesta dan lainnya.
 
 
Paradigma keren tapi berbahaya


Tidak mudah mengurai permasalahan dunia pendidikan. Khususnya ditinjau dari tujuan pembentukan kepribadian dari anak didik. Permasalahan ini muncul dan semakin komplek justru sejalan dengan semakin tingginya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan iptek yang menyediakan kemudahan dan memunculkan beragamnya pilihan menyembunyikan sisi kelam dalam ikut membentuk karakter siswa didik.


Kecepatan dan kemudahan yang ditawarkan teknologi menghasilkan perubahan yang cepat di segala bidang tidak kemudian memuluskan jalan untuk membentuk kepribadian unggul siswa. Meski ilmu pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan produktifitas menjadi semakin mudah diajarkan berkat perangkat yang semakin canggih, namun karakter anak yang terbentuk justru semakin buruk. Manja, ceroboh, tidak konsisten, rapuh dan sulit bertahan dari gempuran masalah mejadi karakter dasar sebagian besar siswa jaman sekarang.


Akar permasalahan 
Berkembangnya teknologi informasi melahirkan media yang mengglobal.

Sayangnya media cenderung menyajikan gambaran dengan penyerderhanaan yang menipu. Mudah, enak dan segera. Industri yang menyokong media dengan dana iklan hanya membutuhkan produknya laku. Untuk itu isi media harus mengikuti selera pasar.

Pembaca dan pemirsa sudah diposisikan menjadi penikmat sehinga sajian ringan dan menghibur model infotaiment lebih ditonjolkan. Kalau perlu pemirsa tidak usah berfikir. Acara diprogram semakin heboh, semakin gila-gilaan agar semakin menarik dan meningkatkan rating. Dan rating tinggi itu menghasilkan slot iklan yang mahal. Sifat konsumtif, maunya enak dan dunia glamor menjadi sajian wajib hampir seluruh stasiun TV saat ini. Sifat primitif mengumbar nafsu manusia dieksploitasi. Sajian kekerasan, erotisme, mistik, hura-hura atau lawak gila-gilaan dan berbagai perilaku rendahan menjadi lazim ditampilkan.


Sifat masif dari media seperti TV memberikan dampak yang tidak terkira bagi institusi pendidikan. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan di kelas seringkali bersebrangan dengan nilai-nilai yang tersaji di TV yang setiap hari mereka tonton. Lihatlah dampak yang terjadi pada sebagian besar prilaku generasi muda. Para remaja yang maunya serba instan. Ingin kaya tapi berprilaku boros dan sama sekali tidak produktif. Banyak kemauan tapi miskin usaha. Maunya lulus dengan nilai tinggi tapi malas belajar. Pingin masuk surga tapi jalan maksiat yang ditempuh. Jargon muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga menjadi absurd dan sangat naif. Mirip dengan kebanyakan film atau sinetron di TV, meskipun menyajikan konflik yang mencekam tapi pasti berlalu dengan hapy ending. Seringkali hanya dalam durasi kurang dari 2 jam segala permasalahan selesai dihadapan pemirsa.


Mumpung masih muda, kita gunakan untuk bersenang-senang. Tak kalau sudah tua barulah bertobat. Ini angapan yang sungguh naif. Tidaklah demikian kenyataannya. Allah maha adil untuk tidak begitu saja memberikan segala yang dimaui anak Adam kecuali dengan usaha dan pengorbanan yang tidak kecil.


Betapa banyak orang gagal bertaubat karena terlanjur abis kesempatan baginya. Seperti kisah Firaun yang bertaubat saat nyawa sudah ditengorokan. Taubat seperti ini adalah taubat terpaksa yg tak mungkin diterima. Atau bertaubatnya Suharto setelah lengser. Tentu saja taubat ini sia-sia karena tidak mengasilkan apa-apa bagi jutaan orang lain yg telah jadi korban rezimnya. Kesempatan tidak datang begitu saja. Ia harus diperjuangkan. Sabda Rasulullah yang didendangkan dengan apik oleh Raihan: Ingatlah lima sebelum datangnya lima! Sempatmu sebelum sempitmu, mudamu sebelum tuamu, kayamu sebelum miskinmu, sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.


Betapa banyak orang gagal berhenti dari kebiasaan buruk meski menurutnya telah berusaha keras. Gagal menghilangkan kebiasaan merokok. Gagal meghilangkan kebiasaan dugem. Ini karena sifat dosa yang menjebak sehingga tidak mampu keluar daripadanya. Sedikit demi sedikit semakin terperosok dalam jebakan setan. Dari merokok terjerumus narkoba. Dari dugem terjerumus pergaulan bebas. Seperti pepatah: kebohongan pertama akan melahirkan kebohongan selanjutnya untuk menutupinya. Kemaksiatan yang dinikmati akan melahirkan kemaksiatan berikutnya.



Karena hati manusia ibarat kaca. Jika ia berbuat dosa sekecil apapun maka akan timbul noda. Jika diulang-ulang maka semakin banyak noda yang akhirnya membuat gelap hati. Gelap hati akan mustahil mendapatkan hidayah. Sedangkan mereka yang bersungguh-sungguh mencari hidayah saja belum tentu mendapatkannya. Betapa banyak ujian berat yang mesti dihadapi untuk membuktikan keimanan seseorang. Dan tidak sedikit manusia gagal menghadapinya.



Sekolah yg terjepit
Perjalanan menuju kesuksesan nyatanya harus ditempuh dengan susah payah dan penuh pengorbaan. Butuh keahlian, waktu lama dan kesabaran yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita. Untuk itu dibutuhkan karakter unggul yang mencetaknya tidak mudah. Pendidikan yang hanya mencekoki siswa dengan informasi lewat pengajaran di kelas tidak akan membentuk kepribadian ini. Sekolah yang hanya mengajarkan tips-tips cepat mengerjakan soal sering terjebak justru menanamkan karakter meremehkan segala sesuatu pada siswa-siswanya. Etos belajar dan berprestasi menjadi rendah. Akhirnya nilai siswa yang jeblok terpaksa didonkrak agar bisa lulus dengan nilai tinggi. Mau bagaimana lagi. Jika banyak siswanya tidak lulus tentu sekolah akan diragukan dan dianggap bermutu rendah.
Sekolah yang berusaha menanamkan nilai nilai kejujuran, keuletan dan kerja keras menjadi terasing. Guru menjadi tampak reseh, tidak gaul dan kuno dihadapan siswa. Bahkan tidak sedikit institusi pendidikan terhanyut oleh arus deras modal yang sangat kosumtif. Tidak terkecuali sekolah-sekolah berlabel Islam. Siswa dimanjakan dengan fasilitas kemudahan yang berujung pembiayaan yang tinggi. Siswa yang disekolahkan model seperti ini akan menagih guru seolah saya telah membayar mahal maka layani saya seperti yang saya mau. Standar pendidikan dinilai dari seberapa enak layanan diberikan pada siswa.


Jalan panjang pembentukan karakter
Untuk membentuk karakter seseorang maka diperlukan waktu lama dan kesabaran. Bagaikan mengukir di atas batu, kadang dibutuhkan pemaksaan diri. Pemaksaan diri yang berbuah kebiasaan baik harus dipupuk sejak belia. Masa remaja adalah kesempatan emas yang jangan sampai disia-siakan. Seperti pepatah pohon kecil yang bengkok bisa diluruskan, tetapi pohon besar hanya bisa ditumbangkan dengan kapak. Sayangnya keadaan yang memaksa ini tidak bisa terus dipertahankan dalam jangka lama. Pemaksaan diri harus diimbangi dengan penanaman pemahaman tentang maksud dan tujuan dari pemaksaan tersebut. Kegagalan lembaga pendidikan menjelaskan pemaksaan diri ini bisa berakibat siswa memberontak atau putus asa.



Lembaga pendidikan harus terus menciptakan suasana belajar untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan siswa-siswanya. Kemampuan yang harus menjadi prioritas adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah riel di lapangan. Kemampuan ini harus terus diasah untuk menjadi bekal menghadapi permasalahan lebih besar nanti saat terjun di masyarakat. Tanpa potensi yang terasah mumpuni maka seseorang akan mudah tergelincir untuk menyerah dan mengambil jalan salah. Potensi yang diasah meliputi pengetahuan, pemahaman maupun kemampuan untuk berealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan. Tentu bukan hanya dalam tataran teori yang ditandai dengan lancarnya siswa menjawab soal multiple choice yang disodorkan di meja ujian.



Lembaga pendidikan harus menyediakan sistem Islami yang berlapis-lapis dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk saling beramar makruf nahi mungkar. Ibarat pertahanan yang berlapis maka jika suatu saat jebol maka lapis berikutnya masih bertahan. Untuk itu maka kebutuhan untuk membina jamaah menjadi sangat penting. Jamaah yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Tidak hanya kurikulum pendidikan di kelas, tetapi sistem organisasi, sistem sosial, nilai-nilai yang ditanamkan dan prilaku yang ditunjukkan semua lapisan harus sejalan dengan ajaran Islam. Guru di kelas harus jadi guru di masyarakat. Artinya seorang guru harus menjadi guru kehidupan bagi siswa-siswanya.
Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)
Berikut ini 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).
1. Abu Bakar Siddiq ra.
Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Selain itu Abu bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran (Surah At-Taubah ayat ke-40) sebagaimana berikut : “Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Abu Bakar Siddiq meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadiets.

2. Umar Bin Khatab ra.
Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

3. Usman Bin Affan ra.
Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan, kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang. Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

4. Ali Bin Abi Thalib ra.
Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib juga terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersama Beliau sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya. Ali Bin Abi Thalib meninggal dalam umur 64 tahun dan dikuburkan di Koufah, Irak sekarang.

5. Thalhah Bin Abdullah ra.
Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

6. Zubair Bin Awaam
Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.

7. Sa’ad bin Abi Waqqas
Mengikuti Islam sejak umur 17 tahun dan mengikuti seluruh peperangan, pernah ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah dengan ke-2 ibu bapaknya sendiri sewaktu perang Uhud. Meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.
8. Sa’id Bin Zaid
Sudah Islam sejak kecilnya, mengikuti semua peperangan kecuali Perang Badar. Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh rasul untuk memata-matai gerakan musuh (Quraish). Meninggal dalam usia 70 tahun dikuburkan di Baqi’.

9. Abdurrahman Bin Auf
Memeluk Islam sejak kecilnya melalui Abu Bakar Siddiq dan mengikuti semua peperangan bersama Rasul. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali. Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan di baqi’.

10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah
Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah pada periode kedua dan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Saw. Meninggal pada tahun 18 H di urdun (Syam) karena penyakit pes, dan dimakamkan di Urdun yang sampai saat ini masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin.
Yang pertama, mereka disebutkan dalam surat at-taubah:10, dalam tafsirnya mencakup 10 orang ini, dan diperkuat oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam berbagai kesempatan. Tidak langsung menyebutkan ke 10 - 10 nya, salah satunya cerita tentang Abdurrahman bin ‘Auf ini :
Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempatketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Anginyang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya.
Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang.
Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu ……
Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah�..?” Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf barn datang dari Svam membawa barang-barang dagangannya . .. Kata Ummul Mu’minin lagi: — “Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummal Mu’ minin … karena ada 700 kendaraan…… !” Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.
Kemudian katanya: “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda:
“Kulihat Abdurrahman bin’Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!”
Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan… ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul.. ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yangberbeda-beda.
Di Pintu Sorga tiba-tiba terjadi kegaduhan. Tetapi tidak lama kemudian berhenti karena salah seorang laki-laki berteriak dengan keras.
“Wahai Tuhanku,” kata laki-laki itu sambil berdiri. “Terus terang kami protes. Kami telah mendapat ketidakadilan. Sudah lama kami menunggu disini, tetapi tidak segera ada panggilan untuk kami masuk sorga.”
Semua orang yang ada di situ menatap laki-laki itu.
“Benar, wahai Tuhanku, kami juga merasakan ketidakadilan!” tiba-tiba suara dari arah belakang mengiyakan laki-laki itu.
“Benar, Tuhanku!” suara lain juga terdengar.
Laki-laki itu membalikan tubuhnya dari semula menghadap ke arah Pintu Sorga lalu menghadap ke arah suara-suara yang mengiyakan perkataanya.Tidak lama kemudian, laki-laki itu membalikan tubuhnya lagi menghadap ke arah Pintu Sorga.
“Dengarkan wahai Tuhanku!” kata laki-laki itu sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. “Bila kami tidak segera dipanggil untuk masuk sorga, terpaksa kami menggunakan cara kami untuk memasukinya. Kami akan melakukan itu karena kamilah sebenarnya yang paling berhak untuk masuk sorga. Bukan mereka-mereka, orang-orang yang kotor itu, yang bajunya robek-robek, dan bau sampah.”
Sambil berkata demikian, laki-laki itu menujuk ke arah banyak orang yang yang sudah masuk di Pintu Sorga. Mereka sedang duduk-duduk di kursi empuk, tidak kepanasan karena full AC, sambil makan buah-buahan yang tersedia di meja terbuat dari emas. Mereka terlihat dengan jelas dari luar, karena tembok sorga terbuat dari kaca. Mereka sedang menunggu giliran untuk dijemput dengan pesawat terbang keliling sorga menuju tempat penginapannya masing-masing.
Semua orang yang sudah memasuki pintu sorga dan duduk-duduk di ruang penjemputan itu tidak terusik dengan suara laki-laki itu. Mereka tidak mempedulikan teriakan-teriakan itu. Mungkin karena tidak bisa melihat luar, serta tidak mendengar apapun suara yang ada di luar, sekeras aapun. Kondisi itu semakin membuat marah laki-laki yang berteriak itu. Apalagi suasana di luar sangat panas, karena hanya bentangan pasir tanpa ada pohon apapun. Bahkan pula, tanpa air dan makanan. Serta sinar matahari begitu dekat dengan ubun-ubun mereka.
“Wahai Tuhanku,” teriak laki-laki itu lagi. “Apakah Engkau telah mengkhianat janjimu? Kami datang kesini dengan baju taqwa kami yang bersih dan suci. Kami juga membawa sajadah, serta bau badan kami sangat wangi. Apakah Engkau tidak bisa melihat bahwa semua ini adalah simbol bahwa kami dulu, ketika masih di bumi, rajin pergi ke masjid menunaikan salat berjamaah, berzikir sangat lama. Kami juga rajin berpuasa, bahkan kami selalu menjalankan puasa sunat selain puasa wajib. Kami juga telah membayar zakat, serta kami telah menunaikan ibadah haji, berkali-kali. Apakah engkau tidak mencatatnya wahai Tuhanku?”
“Seharusnya Tuhanku,” kata laki-laki itu kembali setelah beberapa saat diam. “Seharusnya kamilah yang paling pantas dan berhak untuk masuk sorga. Tetapi, kenyataanya tidak. Bukannya kami yang masuk sorga duluan, tetapi malah mereka, orang-orang itu yang masuk duluan.” Laki-laki itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah orang-orang yang ada dalam kawasan sorga, yang bertembok kaca.
“Apakah engkau tidak tahu atau tidak punya catatan wahai Tuhanku? Mereka, orang-orang itu, dulu, ketika di bumi bukanlah orang yang rajin sembahyang, mereka juga tidak pernah datang ke masjid, mereka tidak berpuasa, mereka tidak mebayar zakat. Mereka memang ada yang membayar zakat fitrah, tetapi tidak mencapai ukuran yang telah engkau tentukan. Serta, mereka sama sekali tidak ada yang menunaikan ibadah haji. Seharusnya mereka tidak masuk sorga, tetapi mengapa Engkau memasukannya? Mengapa kami, yang jelas-jelas hambamu yang taat menunaikan semua perintahmu, tidak segera dipanggil masuk sorga?”
“Benar, Tuhan ternyata telah mengkhianat janjinya. Kalau tahu begini, dulu, saya tidak akan repot-repot datang ke masjid, apalagi salat, apalagi puasa, dan haji. Melelahkan, dan membuang-buang waktu saja!” suara lain berteriak lantang.
Suara lainnya pun bermunculan, suara-suara kecewa. “Tuhan telah mengkhianati janjinya,” itulah kalimat yang sering muncul dari banyak bibir orang itu. Orang-orang yang makin kepanasan karena matahari terasa begitu dekat dengan kepala mereka. Orang-orang yang membawa sajadah, menjadikan sajadah itu sebagai payung untuk menutupi kepalanya. Tetapi itu tidak mengurangi rasa panas teriknya sinar matahari. Andai ada pohon besar dan rindang daunnya, sudah pasti mereka berebut berteduh dibawahnya. Andai pula ada air mengalir, sudah pasti mereka berebut meminumnya.
“Benarkah Tuhan telah mengkhianati janjinya?” Seorang perempuan berbaju compang-camping dan bau bertanya kepada perempuan yang berdiri di sampingnya. Perempuan itu berbaju indah, berjilbab, membawa buntalan berisi mukena dan sajadah, serta di tangannya menggelantung tasbih. Bau perempuan ini begitu harumnya, yang membuat banyak lelaki disitu sering menatapnya karena hidungnya sering menghirup baunya yang wangi.
“Saya sudah disini lama. Kalau tidak mengkhianati janjinya, mestinya saya sudah dipanggil. Tapi saya belum juga dipanggil,” jawab perempuan berjilbab itu.
“Tuhan pernah berjanji apa sih? Saya kok tidak pernah mendengarnya, dulu?” tanya perempuan berbaju compang-camping dan berbau itu.
“Bagaimana kamu akan tahu. Kamu dulu saja tidak pernah ke masjid. Tidak pernah sembahyang, tidak puasa, tidak zakat dan tidak haji. Kerjaanmu hanya di kolong jembatan, berbaur dengan sampah. Menghadap kepada Tuhan saja kamu berbaju sangat tidak sopan. Bajumu sudah pada robek, dan bau apek sekali. Pantas saja kamu tidak tahu janji Tuhan itu,” kata perempuan berjilbab itu.
“Ooooo,” bengong perempuan berbaji robek-robek itu. Bengong tanda tidak mengerti. Karena, di tempat itu, yang dia tahu hanya ikut banyak orang yang berbondong-bondong ke tempat itu, untuk menungu giliran masuk sorga.
“Orang-orang sepertimu tidak layak masuk sorga,” kata perempuan berjilbab itu sinis kepada perempuan berbaju robek-robek itu.
Percakapan berhenti karena kemudian perempuan berjilbab itu menjauh dari perempuan berbaju robek-robek itu sambil menutup hidungnya dengan ujung jilbabnya. Perempuan berbaju robek-robek itu bengong, tidak mengeti apa yang dimaksud oleh perempuan berjilbab.
Yang terlintas di pikiran perempuan berbaju robek-rbek itu, dulu, ketika di bumi adalah bagaimana bisa makan setiap harinya. Bagaimana bisa menghidupi biaya sekolah anak-anaknya. Rumah tidak punya, karena semua uang yang diperolehnya hanya untuk memenuhi kebutuhan makan dan sekolah anak-anaknya. Itupun, anaknya hanya sampai kelas 5 SD, dan tidak tamat karena semakin mahal biayanya. Hidupnya pun serng dikejar-kejar oleh petugas keamanan karena sering sebagai tertuduh sebagai pengganggu lingkungan.
Perempuan berbaju robek itu lalu memalingkan wajahnya, melihat satu persatu wajah orag-orag yang protes. Betapa kagetnya perempuan berbaju robek itu, karena ternyata paham dengan wajah-wajah orang itu. Ada ustad Jafar, ada ustad Zubro, ada pak Uzar, dan sebagainya. Perempuan berjilbab yang tadi bercakap-cakap dengan dirinya juga dikenalnya. Dia adalah istri ustad Jafar.
Memahami wajah orang-orang itu, perempuan berbaju robek itu jadi teringat hal lain ketika di bumi. Mereka dulu pernah mengadakan acara besar karena kampungnya mndapatkan penghargaan dari pemerntah. Berupa penghargaan sebagai kampung yang bersih, tidak ada polusi, indah dan sehat. Tidak hanya itu, kampung itu juga kemudian mendapatkan julukan sebagai kampung Muslim. “Ini berkat warga kampung rajin beribadah, sehingga dampaknya adalah kebersihan lingkungan,” kata kepala desa, ketika berpidato menerima piagam penghargaan itu.
Semua itu terlintas begitu jelas di pikiran prempuan berbaju robek itu setelah paham wajah-wajah orang yang protes. Terlintas pula dalam pikiranya, bahwa ketika tim penilai dari pemerintah datang ke kampung itu, mereka, yang punya wajah-wajah itu, yang semuanya rrajin sembahyang, meminta kepada perempuan itu untuk sementara menyingkir dari kampungnya.
“Kenapa?” tanya perempuan berbaju robek itu,
“Tidak perlu kami jelaskan. Kamu hanya ingin mendapatkan penghargaan,” jawab salah seorang dari mereka.
Perempuan itu baru sadar, bahwa mereka menyuruh pergi dirinya, dan teman serta saudaranya untuk pergi dari kampung itu, walau untuk sementara, adalah demi kemenangan dalam perlombaan kbersihan kampung. Dirinya, dan teman-emannya, dianggap sebagai orang-orang yang mengotori kampung. Karena tidak hanya bajunya yang robek-robek, dan tinggal di kolong jembatan yang berada di sebelah selatan kampung. Tetapi juga karena perempuan itu, dan teman-temanya, tidak ada yang pernah datang ke masjid.
“Sumilah!” tiba-tiba pengeras suara berbunyi memanggil nama perempuan berbaju robek tu. “Silahkan masuk. Suami dan anak-anakmu sudah menunggu di dalam.”
Perempuan itu kaget dengan suara yang memanggil namanya. Bukan karena kaget dirinya diminta masuk ke Pintu Sorga, tetapi karena suara itu mengatakan bahwa suami dan anak-anaknya sudah menunggu di dalam. Kaget bercampur senang, karena sejak pagi, dirinya kebingungan mencari suami dan anaknya. Bukan kebingungan bila dirinya tidak masuk sorga.
Perempuan berjilbab yang tadi berdiri di sampingnya juga kaget.
“Ha…Sumilah masuk duluan, bukan aku?” kata perempuan itu, agak keras sehinga orang-orang di sekitarnya juga mendengarnya. “Hai Tuhan, mengapa Engkau memasukkan Sumilah, sedang aku tidak?” Keras suara perempuan itu.
“Maaf bu nyai, saya duluan ya. Saya sudah kangen sama suami dan anak-anak,” kata perempuan itu, sambil menundukkan badan, dan menjulurkan tangan bersalaman dengan perempuan berjilbab itu.
Perempuan berjilbab itu tidak menerma uluran tangan perempuan berbaju robek itu. Karena tidak mau bersalaman, akhirnya perempuan berbaju robek itu memalingkan badan, dan berjalan menuju ke arah Pintu Sorga.
“Benar namamu Sumilah?” tanya petugas yang ada di pintu sorga.
“Benar,” jawab Sumilah.
“Apa buktinya?” tanya petgas lagi.
“Saya tidak punya KTP pak.”
“Kenapa tidak punya KTP?
“Saya tidak punya tanah, rumah saya hanya di kolong jembatan. Pak lurah tidak mau membuatkan KTP,” jawab perempuan itu.
“Mengapa bajumu robek-robek?”
“Saya tidak punya uang untuk membeli baju. Semua uang yang saya peroleh dari kerja mengumpukkan ampah hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah anak saya, itupun hanya sampai kelas 5 SD.”
“Ya Sudah, sana masuk. Tuh lihat, anakmu sudah menunggu.”
Perempuan itu melihat ke lorong Pintu Sorga. Terlihat seorang bocah tersenyum melambaikan tangan meminta perempuan itu mendekat. Perempuan itu mendekat, dan kemudian memeluk anaknya.
Semua orang yang berada di luar ndlohom (bengong) melihat kejadian itu. Mereka semua tidak percaya, Sumilah, yang mereka sebut sebagai tukang pengumpul sampah, bahkan juga sebagai ampah itu sendiri, yang hidupnya hanya di kolong jembatan, tidak sembahyang, tidak puasa, tidak membayar zakat, dan tidak naik haji, bisa masuk sorga. Sementara mereka, yang begitu taat menjalan rukun Islam, harus berlama-lama berpanas-panasan menunggu giliran yang entah sampai kapan mendapat panggilan.
“Tuhan telah mengkhianati janjinya,” kata salah seorang dari mereka kembali.
“Sepertinya ada kesalahan administratif. Kita langsung saja minta melihat catatan yang dibuat oleh malaikat. Jangan-jangan ada kesalahan, sehingga kita harus lama menungu disini.”
“Tidak bisa,” kata penjaga pintu sorga ketika mereka meminta buku catatan.
“Apakah kami harus memaksa?” tanta salah seorang dari mereka.
“Silahkan kalau mau memaksa, tetapi bapak da ibu-ibu tidak bisa merebut buku catatan ini.”
Entah dari arah mana, tiba-tiba salah seorang dari mereka merebut buku itu dari tangan penjaga pintu sorga. Setelah itu, mereka bersama-sama membaca satu persatu nama-nama mereka. Betapa kagetnya, karena ternyata, menurut catatan buku itu, mereka semua sudah seharusnya masuk surga begitu sampai di tempat itu. Mereka mestinya masuk sorga lebih dulu daripada mereka, orang-orang dengan baju robek-robek itu.
“Tetapi, mengapa kita tidak sejak awal? Jelas ini bukan kesalahan Tuhan, tetapi ini sentimen dan pejaga pintu sorga. Ayo kita masuk saja,” kata laki-laki yang sejak awal berteriak-teriak. Laki-laki itu kemudian mengajak semua untuk mendekat Pintu Sorga, dan masuk ke dalamnya.
Tetapi, sebuah kejadian tanpa mereka sadari. Pintu Sorga sudah tertutup. Penjaga pintu sedang mengunci pintu itu dari dalam.
“Pintu Ini Akan Dibuka 1000 Tahun lagi,” kata sebuah tulisan yang terpampang di Pintu sebelah luar.
Terlihat didalam, orang-orang dengan pakaian robek-robek, masih menunggu pesawat yang belum juga datang. Sementara yang diluar, terasa begitu panas terik matahari menyengat tubuh mereka. Tidak ada air, dan mereka kehausan.
Dan, seribu tahun kemudian, baju-baju mereka telah menjadi sangat sobek-sobek ketika mereka mendapat giliran masuk Pintu Sorga. Dengan senang hati, dan setelah menyadari kekeliruannya, mereka masuk Pintu Sorga.
Mereka berebut masuk bisa menikmati AC setelah lama kepanasan, serta bisa makan buah-buahan sorga yang sudah mereka tunggu selama 1000 tahun. Tapi sayang, di tempat menunggu pesawat, ternyata AC sudah mati.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar